Buku Laskar
Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah
Karpov merupakan karya Andrea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang
di negeri ini. Tiga buku, minus Maryamah
Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia, Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol,
dan beberapa negara Eropa lainnya.
Akan tetapi, melihat kondisi sosial
kampung di Belitong, ia merasa sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan pemerintah
Kabupaten Belitong Timur selama ini. “Pemerintah Kabupaten Beltim sama sekali
tak punya konsep learning society dan
tak mampu berpikir sampai ke tingkat kultural edukasi.”
Akibat tak punya learning society itu, kata Andrea, Pemkab Belitong Timur seolah
membiarkan munjamurnya tempat-tempat maksiat model baru nun di hutan dan
semak-semak pinggiran kampung, kafe hutan istilahnya. Di sanalah orang-orang
muda terorientasi. “Saya kira hal ini mencoreng identitas kita dan itulah wajah
learning society Beltim khususnya di
kampung saya di Kecamatan Gantung. Jika Anda ke sana, Anda akan disambut sebuah
papan iklan minuman keras yang sangat besar, jauh lebih besar dari papan
reklame ekowisata Beltim di sebelahnya yang miring, kumal, dan menyedihkan,”
papar Andrea.
Andrea Hirata, yang dalam buku itu
dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Seman
Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah,
sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu
adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong. Berikut
wawancara Nasrul Azwar dari Tabloid Mingguan Metro Bangka Belitong dengan
Andrea Hirata.
Bisa
digambarkan secara umum sejauh mana pengaruh dan dampak tiga novel Anda yang
Anda ciptakan itu terhadap masyarakat Belitong?
Memantau pengaruh sebuah karya tulis
apalagi karya sastra di sebuah bangsa yang tak gemar membaca itu tidak mudah.
Apalagi di Belitong di mana minat baca sangat rendah. Di Indonesia, saya
percaya sebuah karya tulis baru bergaung ke daerah jika telah lebih dulu
bergaung di kota-kota besar. Tetralogi Laskar Pelangi mulai ditanggapi di
Belitong setelah tampil di berbagai media cetak dan elektronik nasional, dan
karena rencana pembuatan film Laskar pelangi. Tanggapan itupun sifatnya masih
euforia seperti Pemda setempat mengundang untuk diskusi buku, workshop
penulisan di sekolah-sekolah, dan saya diundang oleh PGRI Belitong Timur.
Pengaruhnya? Secara signifikan belum
terlihat, baru berupa pengenalan saja. Jika pihak terkait (Pemda dsb) mampu
menerjemahkan moment tetralogi Laskar Pelangi ini dengan baik dan mampu membuat
desain yang cerdas bagaimana memanfaatkan tetralogi Laskar Pelangi sebagai
education and cultural icon di Belitong. Saya yakin pengaruhnya pasti segera
terlihat. Smart, itulah kata kuncinya.
Tiga buah
novel yang diterbitkan Bentang, yaitu Laskar Pelangi (terjual 200.000
eksemplar), Sang Pemimpi (30.000 eks), dan Edensor (15.000 eks), dan itu jumlah
yang sangat fantastik di Indonesia . Bagaimana komentar Anda?
Tetralogi Laskar Pelangi bercerita tentang orang Indonesia kebanyakan.
Sehingga pembaca melihat dirinya sendiri dalam karya itu. Karena itu tetralogi
Laskar Pelangi mendapat acceptance (penerimaan) yang luas. Saya senang
buku-buku yang tidak metropop semacam Laskar Pelangi ini bisa juga best seller,
namun yang lebih penting bagi saya bagaimana membuat buku yang memiliki tingkat
acceptance yang besar sekaligus tingkat literary yang tinggi. Dalam bahasa
industrinya: bagaimana membuat karya bermutu sekaligus laku, mematahkan mitos
paradoks buku Indonesia di mana buku yang bermutu sering tak laku.
Untuk
Laskar Pelangi, kabarnya novel ini menjadi best seller di Malaysia dan
Singapura. Lalu negara Spanyol dan beberapa negera Eropa lainnya juga berminat
menerbitkannya. Apa yang Anda ingin katakan untuk ini?
Fantastik! Itu saja kata saya. Setiap
penulis (mengaku atau tidak) memiliki keinginan agar karya-karyanya dibaca
orang banyak. Sebagai penulis pemula yang tengah belajar menulis sastra, saya
rasa rencana-rencana ini sangat fantastik, Insya Allah lancar.
Dan untuk Laskar Pelangi direncanakan akan
difilmkan dengan sutradara Riri Reza, apakah Anda yakin "ruh" novel
itu tak bergeser ketika ia menjadi karya sinematik?
Saya melihatnya dari sisi lain, jika filmnya
sama persis dengan bukunya buat apa bikin film? Baca saja bukunya dan silakan
pembaca membuat filmnya sendiri dalam kepala mereka masing-masing. Saya
mendapat ribuan E-mail, SMS, telepon, dan surat dari pembaca yang menolak
Laskar Pelangi difilmkan. Namun, ingin saya katakan bahwa dimensi apresiasi
film dan buku serta kapasitas artistiknya sama sekali berbeda. Saya harap para
pembaca memaklumi keadaan ini. Saya menampilkan Laskar Pelangi dalam buku dan
Riri Riza filmnya, biarlah komplit dan kita lihat saja hasilnya. Saya bebaskan
Riri Riza berkreasi. Saya percaya penuh padanya. Ia salah seorang sutradara
muda paling berbakat negeri ini, dan satu dari sedikit saja sutradara yang
punya integritas.
Bisa
diceritakan proses kreatif Anda untuk melahirkan 3 novel itu?
Spontan, demikian filosofi kreativitas
saya. Saya tak perlu waktu khusus untuk menulis dan tak perlu bersusah-susah
menyiasati mood. Saya tak tergantung mood, dan selalu berusaha belajar menjadi
pribadi yang efektif.
Novel-novel
yang Anda tulis (terutama Laskar Pelangi) semula didedikasikan untuk guru Ibu
Muslimah Hafsari. Bisa diceritakan kesan yang paling membekas bersama Ibu
Muslimah Hafsari saat di sekolah dasar itu sampai sekarang?
Kesan yang paling membekas adalah
bagaimana beliau selalu berhasil membuat kami murid-muridnya untuk menyintai
ilmu. Dengan beliau, mata pelajaran apapun tak pernah menjadi beban. Pekerjaan
rumah adalah hiburan, ulangan adalah petualangan dan tantangan yang
menyenangkan.
Bagaimana
nasib sekolah dasar Muhammadiyah itu saat ini?
Sekolah itu telah roboh tahun 1991, dan
tak pernah dibangun lagi
Royalti
yang diterima cukup besar, tidak ada rencara membagun pustaka sejenis ini di
Belitong?
Menurut saya, perpustakaan adalah konsep
yang keliru bagi masyarakat yang tak gemar membaca bahkan antibuku. Saya punya
konsep sendiri, yaitu learning centre. Learning centre tak lain tempat orang
datang untuk belajar dan buku-buku yang ada di dalamnya mendukung tujuan
belajar spesifik. Bentuk learning centre itu misalnya workshop tiga hari
mengajari orang Belitong membuat gerabah dengan guru-guru yang didatangkan dari
Jogjakarta. Giliran berikutnya bagaimana industri gerabah diciptakan di
Belitong.
Saya akan mengalokasikan royalti buku dan
film Laskar Pelangi untuk membuat
sebuah program yang saya sebut “Laskar pelangi in action”. Learning centre
dalam “Laskar pelangi in action” tahun ini berupa bimbingan belajar intensif
gratis matematika, fisika, kimia, biologi, dan bahasa Inggris bagi siswa-siswa
kelas 3 SMA dari Belitong yang akan mengikuti SPMB. Cita-cita saya adalah ide
“Laskar pelangi in action” menginspirasi dan ditiru orang lain sehingga menjadi
seperti MLM intelektualitas, dan mudah-mudahan “Laskar pelangi in action” bisa
menjadi sebuah model learning society.
Kaum intelektual muda dan tua Bangka
Belitong yang ingin bergabung dengan “Laskar pelangi in action” sebagai relawan
pengajar atau membantu apa saja, silakan hubungi saya.
Tokoh-tokoh
dalam 3 novel itu pada intinya berjuang dan berjuang untuk mewujudkan mimpi
masa depan. Bagaimana Anda melihat hal ini pada pelajar dan kaum muda di
Belitong saat kini?
Tidak bisa gegabah menghakimi sebuah
generasi. Saya tak pernah tahu masa lalu, jangan-jangan orang jaman dulu juga
pemalasnya minta ampun. Saya tak punya data ini dan tak pernah merisetnya.
Tokoh-tokoh dalam novel saya berjuang sebab jika tidak berjuang tak bisa makan
atau tak bisa sekolah. Setiap generasi punya persepsi, value, style, dan
karakternya masing-masing sesuai lingkungannya.
Namun di Belitong saya melihat minat
orang muda untuk maju besar. Di Tanjungpandan banyak anak muda kreatif yang
telah mampu membuat video klip dan bermain musik dengan kemampuan mengejutkan,
menulis musik sendiri, merekamnya, dan menyerahkan karyanya pada saya untuk
dipertimbangkan menjadi soundtrack film Laskar Pelangi, sangat mengesankan
hasil karya mereka.
Orang muda Belitong menyerap dengan mudah
apa-apa yang berasal dari kota, namun kemajuan mengarah pada hedonisme bukan
pendidikan. Persepsi kejayaan dicitrakan sebagai implikasi materi dan politik
oportunistik. Belakangan orang-orang muda Belitong memiliki nature yang
cenderung politikal. Saya melakukan riset langsung dan mendapatkan fakta yang
mencengangkan bahwa jumlah tamatan SMA Belitong yang dikirim orangtuanya untuk
kuliah ke Jawa meningkat dramatis, namun jumlah mereka yang berhasil lulus SPMB
terjun bebas. Dalam bahasa kasarnya dapat disebut orang-orang Belitong makin
kaya namun anak-anaknya makin tak mampu secara akademik.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Beltim
misalnya (yang saya amati langsung) sama sekali tak punya konsep learning
society dan tak mampu berpikir sampai ke tingkat kultural edukasi. Dari
bertubi-tubinya benchmark atau studi banding yang mereka lakukan apakah mereka
tak pernah belajar dari Jogjakarta, misalnya yang memulai leraning society di
gang-gang kampung dengan mencanangkan jam belajar masyarakat dari pukul
19.00-22.00. Lalu, jika di kota-kota lain kita disambut berbagai slogan yang
penuh integritas ketika masuk kota tentang takwa, iman, dan bersih, dan
belajar. Masuk kampung saya di Kecamatan Gantung di Belitong Timur (Beltim),
Anda akan disambut sebuah papan iklan minuman keras yang sangat besar, jauh
lebih besar dari papan reklame ekowisata Beltim di sebelahnya yang miring,
kumal, dan menyedihkan. Lalu muncul munjamur (juga di Beltim) tempat-tempat
maksiat model baru nun di hutan dan semak-semak pinggiran kampung, kafe hutan
istilahnya. Di sanalah orang-orang muda terorientasi. Saya kira hal ini
mencoreng identitas kita dan itulah wajah learning society Beltim khususnya di
kampung saya.
Bagaimana
Anda membaca perkembangan pemuda, mahasiswa, pelajar, dan generasi muda Bangka
Belitong pasca menjadi provinsi ke 31 ini? Dan apa bedanya sebelum menjadi
provinsi?
Saya tak memiliki data ini dan tak pernah
merisetnya.
Nilai-nilai
tradisi Melayu di Belitong dan Bangka Belitong umumnya, terkesan tergerus
karena perkembangan zaman, selain itu strategi pengembangan dan pelestariannya
oleh pemerintah terkesan sangat kurang. Bagaimana Anda membaca ini?
Saya juga tak punya data tentang ini dan
tak mau sok tahu dengan berandai-andai, namun sikap saya sedikit banyak telah
terwakili dari pernyataan saya tentang identitas orang Melayu sebagaimana saya
sebutkan di atas.
Tampaknya
militansi dan kerja keras untuk meraih mimpi masa depan semakin mengecil di
dalam spirit kaum muda Bangka Belitong, apakah ini terkait juga dengan pola
hidup budaya malas yang umumnya dilakoni masyarakat Melayu?
Ha, ha, menarik, saya sendiri baru
belakangan tahu jika ternyata orang luar melihat kita begitu. Saya sempat
tergelak dengan stereotype orang
Melayu pemalas itu. Bagaimana saya tak tahu dan tak menyadari hal itu selama
ini? Kita dan bagaimana persepsi orang tentang kita, seperti ikan yang tak
menyadari dikelilingi air untuk hidup. Saya belajar introspeksi, berdasarkan
persepsi itu saya segera memperhatikan attitude
anggota keluarga saya sendiri, para ponakan dan sebagainya, lalu saya mengambil
kesimpulan: sedikit banyak stereotype
itu ada benarnya.
Keberhasilan
Anda di dunia sastra memberi spirit baru bagi masyarakat Bangka Belitong,
apakah Anda pernah ditelepon atau dikontak bupati, gubernur, atau pejabat
lainnya di Bangka Belitong?
Saya sering dikontak beberapa orang yang
mengaku dirinya pejabat baik di Bangka atau di Belitong, dari berbagai instansi
atau wakil rakyat. Saya tidak menyukai pembicaraan politik, ide-ide politik,
dan segala remeh temeh basa-basi retorikal ala politisi. Saya kira dari pada
repot-repot mengontak saya lebih berguna jika mereka menggunakan waktu mereka
untuk membuat spanduk dan kalender. Saya sama sekali tak berminat pada politik.
Saya orang yang free, non partisan,
non sekterian. Dengan demikian saya bisa obyektif dan tetap tajam dengan
kritik-kritik sosial saya, dan kritik sosial itu adalah tugas saya, moral responsibility saya sebagai seorang
penulis dan pengamat sosial. Dalam sebuah sistem yang dinamik para politisi
mesti memahami orang-orang semacam saya sebagai bagian dari kontrol sosial.
Saya kira saya lebih senang jika dikontak seorang guru di pedalaman Belitong
daripada para pejabat itu.
Apa
komentarnya Anda tentang Tambang Inkonvensional (TI) yang demikian banyak di
Bangka Belitong ini?
No comment
Apa
komentar Anda tentang pemerintah Kabupaten Belitong dan PT Timah?
Tentang pemerintah Kabupaten Belitong
sedikit banyak pandangan dan aroma kritik sosial juga pujian telah saya tiupkan
di atas. Dan tentang PT Timah, semoga lebih gencar dengan program CSR
(Corporate Social Responsibility) terutama CSR pendidikan. Saya kira setiap
BUMN diwajibkan untuk melakukan CSR.
Dari
royalti buku yang demikian besar itu, apa rencana Anda untuk masyarakat
Belitong?
Semua rencana itu tercakup dalam “Laskar
pelangi in action”
Apa untuk
mencapai sukses seperti yang Anda nikmati sekarang, kita harus miskin dulu?
Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?
Tidak ada hubungan antara kemiskinan dan
kesuksesan. Banyak orang kaya jadi miskin, orang kaya makin kaya, dan orang
miskin makin miskin. Tapi yang banyak terjadi adalah adalah orang kaya
berwawasan miskin. Hubungan kaya, miskin, dan sukses adalah semata persoalan
integritas, sikap, dan mentalitas
Bagaimana
kabar A-Ling dan Arai? Di mana mereka sekarang?
Ikuti cerita mereka di novel terakhir
tetralogi Laskar Pelangi berjudul Maryamah
Karpov yang akan terbit usai pembuatan film Laskar Pelangi.
Apakah
Anda tak berniat belanjutkan studi ke S3?
Berminat
Provinsi
Kepulauan Bangka Belitong yang kini baru berusia tujuh tahun sejak resmi jadi
provinsi tahun 2000. Apa yang ingin Anda katakan terhadap jalannya roda
pemerintahan selama 7 tahun itu?
Mengelola daerah bukanlah pekerjaan
mudah, tak bisa dipungkiri, tampak jelas kemajuan sana-sini setelah menjadi
provinsi sendiri. Saya tidak akan bicara seperti seorang politisi, yang ingin
saya katakan/tanyakan hanya: mengapa ya sepertinya (khususnya di Belitong)
makin banyak orang dewasa yang tak pandai mengaji Al-Qur'an? Bagaimana ya agar
masjid-masjid kembali menjadi seperti oase bagi anak-anak kecil seperti masa
kecil saya dulu? Tanggung jawab pemerintahkah ini? Bagian dari pembangunankah
ini? Parameter dari kemajuan Babel 7 tahun itukah ini? Saya tak tahu.
Dan saya ingin pula menyampaikan bahwa
saya telah mengunjungi banyak tempat di Indonesia, namun baru di Belitong saya
menjumpai nama asli daerah dibahasaindonesiakan. Sehingga terkesan konyol
misalnya Aik Kelik menjadi Air Keli (Kelik sesungguhnya adalah ikan lele). Saya
mengunjungi tempat dengan nama yang amat susah ditulis, dieja, dan diucapkan.
Di Aceh misalnya Ueleuleu, namun sedikitpun mereka tak merubahnya karena orang
Aceh bangga akan nama daerahnya. Menurut saya pembangunan di Babel musti
dimulai dari kebanggaan akan identitas kita sendiri, dan saya harap ada
kebijakan Pemda Babel untuk mengembalikan nama daerah ke nama-nama aslinya.
Apakah
Anda melihat para pejabat masih terkesan eforia pasca menjadi provinsi?
Saya jarang menyaksikan tabiat mereka
karena saya tinggal di Jawa.
Bagaimana
penilaian Anda terhadap pembangunan yang dilakukan selama ini, khususnya di
Belitong?
Sangat baik, saya melihat kemajuan di
sana-sini, fisikal terutama, spiritual? Mental? Masih pertanyaan besar, iklan
minuman keras di gerbang kampung saya, kafe-kafe hutan, dan data edukasi saya
tadi saja contohnya.
Kabarnya
Anda pulang kampong ketika Hari Raya Idul Adha, apa yang Anda lakukan di
kampong?
Memperbaiki toilet di rumah ibu saya yang
meluap-luap, atap bocor di mana-mana
Di bidang
pendidikan tinggi apakah sudah sangat perlu didirikan perguruan tinggi
setingkat universitas di Bangka Belitong?
Diperlukan penelitian lebih lanjut,
mendirikan pesantren, pusat studi Islam, tempat orang belajar mengaji saya kira
jauh lebih urgent.
Setelah
Sabron Aidit (almarhum), tampaknya Anda penerus sebagai sastrawan dari
Belitong.
Saya amat respek pada almarhum tapi saya
belum berani menyebut diri saya ini sastrawan, ada konsekuensi besar menjadi
seorang sastrawan yang tak sembarang orang mampu memanggulnya.
Biofile
Nama: Andrea Hirata
Tempat/tgl lahir: Belitong, 24 Oktober
Pendidikan
·
S1
Fak Ekonomi Universitas Indonesia
·
S2
Economic Theory (European Union Scholarship) Universite de Paris, France (Cum
Laude)
·
S2
Economic Theory (European Union Scholarship) Sheffield Hallam University,
United Kongdom, (Cum Laude)
Pekerjaan: Instruktur di kantor Pusat
PT.Telkom Bandung
Hobi: Naik komidi putar
Karya:
·
The
Science of Business, Teori Ekonomi dalam Perspektif Telekomunikasi (Penerbit
ITB)
·
Laskar
Pelangi (National Best Seller)
·
Sang
Pemimpi (National Best Seller)
·
Edensor
(National Best Seller dan nominator penghargaan nasional sastra Khatulistiwa
Literary Award/KLA 2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar